Kau tahu.. bagaimana
setapak dalam satu jejak kaki itu melangkah. Terkadang, mimpi tak seperti bagai
langkahan yang kian melesat. Jauh diantara tetesan embun yang selalu menghujani
senyuman yang kian terlukis.
Mungkin seulas senyuman
yang membawa rinaian tak terhenti melukiskan sebuah kata. Terkadang, secercah polahan
jingga yang begitu melukiskan kisaran elegi, selalu membawa mimpi itu menjadi
sebuah kenangan indah.
“Satu..
dua.. tiga.. empat..”
Begitu
seterusnya yang terucap dari bibir mungilnya, si gadis yang sedang menyandarkan
dirinya diatas tapakan hamparan hijau. Tepat diatas perbukitan yang begitu
asri. Setiap kali menanti lukisan jingga mulai menampakkan senyumannya, gadis
itu si penyuka jingga. Terutama ketika senja itu tiba.
Perlahan
lentikan jemari ditengah-tengah kisaran sinar jingga. Mulai menari-nari dibawah
teriknya mentari yang mulai menyapa dipagi itu, ketika waktu subuh telah hadir.
Tak hanya sekali gadis itu melangkah selalu menyusuri perbukitan. Mungkin hanya
disanalah sebuah tempat, dimana gadis penyuka kalimat jingga selalu menatap
indahnya mentari yang seakan memancarkan sinar kehangatan.
‘Tap.. Tap.. Tap..’
Derap
langkahan yang mulai terhitung oleh jemarinya, tak sama sekali menghiraukan
jejakannya. Ketika cahaya elegi menyongsong diufuk timur.
‘Klik’
Potretan
jingga yang berhasil ditangkap, oleh si gadis penyuka jingga. Ia mengambil
gambar itu bukan satu potretan saja. Namun beberapa potretan jingga yang ia
tangkap begitu saja lewat kamera kesayangannya. Dengan lihai menari-nari seolah
tak ada seorang pun yang akan mengusik ketenangannya ditengah senja itu tiba.
“Senjaaa..”
Suara
itu menghentikan gerakan si gadis penyuka jingga. Biasanya banyak yang memanggilnya
dengan kalimat Keisha Senja Claretta, iya itu nama si gadis itu. Sebut saja ia
Senja. Langkah ia terhenti ketika menatap sosok lelaki sebaya sedang
menghampiri dirinya.
“Dasar
gadis penyuka jingga! Kau kurang memuaskan memotret jingganya senja disini?”
Ungkapan
yang lelaki itu lontarkan pada Senja. Gadis penyuka jingga itu hanya tersenyum
melihat tingkah pemuda yang kini tengah mengunjungi kebiasaannya.
Senja
memang menyukai cahaya jingga ditengah indahnya pagi dan menyongsongnya mentari
ketika sore hari, itu senja. Mungkin karena hari itu, hari dimana mahasiswa
sedang menikmati liburannya. Libur? Iya benar! Satu kata itu tak pernah asing
dipendengaran indera setiap orang. Jangankan mahasiswa saja, anak dibawah umur
hingga dewasa pun sangat menyukai hari libur. Apalagi libur panjang dengan
menikmati indahnya jingga pada sapaan pagi, bagi Senja.
“Tak ada kata kurang bagi aku! Jingga akan selamanya
menjadi sahabat untukku.”
Kalimat
yang Senja lontarkan begitu saja, pada pemuda yang mengenakan pakaian casual serta menggenggam kamera yang tampak jelas
diantara jemarinya.
“Kata
yang terbiasa ku dengar dari ucapanmu, Senja.”
Sahut
pemuda itu, sebut saja dia Fahreza saverio, kerap kali sebutan Reza menjadi
ciri khasnya. Seseorang yang kini tengah berada bersama Senja. Bukan hanya
waktu ketika jingga itu menyongsongkan cahayanya. Namun ketika dimana saja,
mungkin hanya satu sosok lelaki itu menemani langkahan Senja. Gadis yang biasa
ia sapa dengan kata itu, hanya bisa mengulas senyumannya.
“Senja..
aku mengagumi cahaya jingga yang menghias indahnya sang mentari, mungkin itu
sudah lama ku rasakan. Aku hanya tersadar, aku menyukai jingga ditengah kisaran
senja yang mulai melukis cahaya arti cinta dihati ku. Aku menyukaimu Senja..”
Ucapan
Reza membuat langkahan Senja mulai terhenti. Ia hanya menatap lekat-lekat seseorang
yang tengah menemani jejakannya kini. Jika waktu dibawah cahaya jingga itu
tersadar, mungkin hati Senja ingin meneriakkan isi hati yang lama ia pendam.
Bahwa ia juga menyukai satu pemuda itu, bukan hanya karena ia selalu menemani
langkahan Senja.
Sembari
bibir mungil Senja mulai melukiskan senyuman, seakan mengartikan jawaban yang
ditunggu oleh seorang yang tengah menemaninya, Reza. Sungguh, ditengah
keindahan pancaran rinai-rinai jingga itu, tiba saja menghadirkan seulas tawa
yang mereka dapati. Hari libur yang tak mungkin terlewatkan, dibawah sinar
mentari bersama senyuman Senja. Gadis penyuka jingga.
Komentar
Posting Komentar