Langsung ke konten utama

Cerpen~ RINAIAN JINGGA


Kau tahu.. bagaimana setapak dalam satu jejak kaki itu melangkah. Terkadang, mimpi tak seperti bagai langkahan yang kian melesat. Jauh diantara tetesan embun yang selalu menghujani senyuman yang kian terlukis.

Mungkin seulas senyuman yang membawa rinaian tak terhenti melukiskan sebuah kata. Terkadang, secercah polahan jingga yang begitu melukiskan kisaran elegi, selalu membawa mimpi itu menjadi sebuah kenangan indah.

“Satu.. dua.. tiga.. empat..”

Begitu seterusnya yang terucap dari bibir mungilnya, si gadis yang sedang menyandarkan dirinya diatas tapakan hamparan hijau. Tepat diatas perbukitan yang begitu asri. Setiap kali menanti lukisan jingga mulai menampakkan senyumannya, gadis itu si penyuka jingga. Terutama ketika senja itu tiba.

Perlahan lentikan jemari ditengah-tengah kisaran sinar jingga. Mulai menari-nari dibawah teriknya mentari yang mulai menyapa dipagi itu, ketika waktu subuh telah hadir. Tak hanya sekali gadis itu melangkah selalu menyusuri perbukitan. Mungkin hanya disanalah sebuah tempat, dimana gadis penyuka kalimat jingga selalu menatap indahnya mentari yang seakan memancarkan sinar kehangatan.

Tap.. Tap.. Tap..

Derap langkahan yang mulai terhitung oleh jemarinya, tak sama sekali menghiraukan jejakannya. Ketika cahaya elegi menyongsong diufuk timur.

Klik

Potretan jingga yang berhasil ditangkap, oleh si gadis penyuka jingga. Ia mengambil gambar itu bukan satu potretan saja. Namun beberapa potretan jingga yang ia tangkap begitu saja lewat kamera kesayangannya. Dengan lihai menari-nari seolah tak ada seorang pun yang akan mengusik ketenangannya ditengah senja itu tiba.

“Senjaaa..”

Suara itu menghentikan gerakan si gadis penyuka jingga. Biasanya banyak yang memanggilnya dengan kalimat Keisha Senja Claretta, iya itu nama si gadis itu. Sebut saja ia Senja. Langkah ia terhenti ketika menatap sosok lelaki sebaya sedang menghampiri dirinya.

“Dasar gadis penyuka jingga! Kau kurang memuaskan memotret jingganya senja disini?”
Ungkapan yang lelaki itu lontarkan pada Senja. Gadis penyuka jingga itu hanya tersenyum melihat tingkah pemuda yang kini tengah mengunjungi kebiasaannya.

Senja memang menyukai cahaya jingga ditengah indahnya pagi dan menyongsongnya mentari ketika sore hari, itu senja. Mungkin karena hari itu, hari dimana mahasiswa sedang menikmati liburannya. Libur? Iya benar! Satu kata itu tak pernah asing dipendengaran indera setiap orang. Jangankan mahasiswa saja, anak dibawah umur hingga dewasa pun sangat menyukai hari libur. Apalagi libur panjang dengan menikmati indahnya jingga pada sapaan pagi, bagi Senja.

“Tak ada kata kurang bagi aku! Jingga akan selamanya menjadi sahabat untukku.”

Kalimat yang Senja lontarkan begitu saja, pada pemuda yang mengenakan pakaian casual  serta menggenggam kamera yang tampak jelas diantara jemarinya.

“Kata yang terbiasa ku dengar dari ucapanmu, Senja.”

Sahut pemuda itu, sebut saja dia Fahreza saverio, kerap kali sebutan Reza menjadi ciri khasnya. Seseorang yang kini tengah berada bersama Senja. Bukan hanya waktu ketika jingga itu menyongsongkan cahayanya. Namun ketika dimana saja, mungkin hanya satu sosok lelaki itu menemani langkahan Senja. Gadis yang biasa ia sapa dengan kata itu, hanya bisa mengulas senyumannya.

“Senja.. aku mengagumi cahaya jingga yang menghias indahnya sang mentari, mungkin itu sudah lama ku rasakan. Aku hanya tersadar, aku menyukai jingga ditengah kisaran senja yang mulai melukis cahaya arti cinta dihati ku. Aku menyukaimu Senja..”

Ucapan Reza membuat langkahan Senja mulai terhenti. Ia hanya menatap lekat-lekat seseorang yang tengah menemani jejakannya kini. Jika waktu dibawah cahaya jingga itu tersadar, mungkin hati Senja ingin meneriakkan isi hati yang lama ia pendam. Bahwa ia juga menyukai satu pemuda itu, bukan hanya karena ia selalu menemani langkahan Senja.


Sembari bibir mungil Senja mulai melukiskan senyuman, seakan mengartikan jawaban yang ditunggu oleh seorang yang tengah menemaninya, Reza. Sungguh, ditengah keindahan pancaran rinai-rinai jingga itu, tiba saja menghadirkan seulas tawa yang mereka dapati. Hari libur yang tak mungkin terlewatkan, dibawah sinar mentari bersama senyuman Senja. Gadis penyuka jingga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUPUK ORGANIK KILAT (POC) dan Kegunaannya

Pupuk organik kilat ialah sebuah produk berbahan organik dari hasil pengolahan tanaman tertentu. Pupuk ini memiliki kandungan hormon tumbuhan, memiliki unsur makro dan mikro tanah yang pun difungsikan sebagai tanaman dan juga mikroba tanah. Pupuk organik berjenis ini juga memiliki kandungan hormon yang tentunya dibutuhkan oleh berbagai tanaman untuk membantu proses perkembangan tanaman tersebut. Https://ptagi.co.id Kandungan yang ada di produk pupuk organik kilat pun memiliki hormon aktif tumbuhan yang produknya berbentuk bau susu khas, berwarna putih, dan tidak mengandung bau menyengat, amoniak, zat beracun, ataupun kandungan alkohol yang tidak memformulasikan sebagai bahan alami tanaman. Namun zat-zat isi kandungan telah memfungsikan zat alami yang dibutuhkan tanaman. Berikut merupakan fungsi keunggulan yang didapatkan dari produk pupuk organik kilat: 1. Membantu perkembangan dan pembuahan pada tanaman.  2. Meningkatkan kualitas tanaman dalam memperbaiki kondisi tanaman dan tanah...

Santapan Buku Di Waktu Senggang

Buku, kalian sudah tahu apa yang baru saja kusebutkan. Hanya terdiri dari empat huruf yaitu B-U-K-U. Apa yang terlintas di pikiran kalian? Buku itu ialah suatu hal yang biasa. Kalian mengenal kertas hingga berlembar-lembar tertulis rapi di dalam sebuah buku. Bahkan saat di buka dan di baca sekaligus, kalian pasti jengah atau jenuh? Karena di dalam buku terdapat banyak deretan kalimat yang bisa kalian baca. Namun arti bagiku, buku bukanlah suatu hal yang biasa atau pun hal yang menjenuhkan. Karena dari sebuah buku, manusia mampu lahir dengan cerdas. Karena dari sebuah buku, manusia akan berilmu dan berakal yang baik. Buku bagiku adalah sejenis benda yang tak bisa kuhindari setiap waktu. Dengan buku, aku mampu belajar. Dengan buku, aku mampu menemukan ilmu yang belum kutahu. Dengan buku, aku mampu menciptakan kalimat yang kutuang di atas kertas. Semua itu karena keberadaan sebuah buku bagiku. Kadang kala ada sebagian besar banyak orang yang tidak menyukai buku. Bahkan meliha...

Secarik Kertas Dan Sebatang Pena

Jika kalian mendengar dua kata benda di judul atas, sepertinya biasa saja. Bagiku dua benda tersebut sangat luar biasa. Mengapa kubilang begitu? Tanpa kertas,  aku tak akan mengenal tulisan pena. Tanpa pena, aku tak akan mengenal secarik kertas yang biasa kutulis hampir setiap waktu senggangku. Bagiku--kedua benda di atas telah menjadi sahabat tulisanku selama hampir dua tahunan yang lalu. Mereka yang sampai saat ini selalu kukenang dalam dunia literasiku. Secarik kertas dan sebatang pena yang kukenal lama semenjak aku masih berada di bangku sekolah menengah atas. Waktu itu aku sedang menjabat sebagai anggota jurnalistik redaksi sekolahku. Tepatnya di sebuah Madrasah di kota santri Situbondo. Aku sedang bersekolah di MAN 2 Situbondo, dari sana aku mulai mengenal apa itu dunia literasi. Pertama kali lewat secarik kertas dan sebatang pena yang sering menemani waktu senggangku menulis di pojok kelas. Waktu istirahat tiba aku selalu saja mengeluarkan sebuah buku yang berisi lemb...