Langsung ke konten utama

Secarik Kertas Dan Sebatang Pena


Jika kalian mendengar dua kata benda di judul atas, sepertinya biasa saja. Bagiku dua benda tersebut sangat luar biasa. Mengapa kubilang begitu? Tanpa kertas,  aku tak akan mengenal tulisan pena. Tanpa pena, aku tak akan mengenal secarik kertas yang biasa kutulis hampir setiap waktu senggangku. Bagiku--kedua benda di atas telah menjadi sahabat tulisanku selama hampir dua tahunan yang lalu. Mereka yang sampai saat ini selalu kukenang dalam dunia literasiku.

Secarik kertas dan sebatang pena yang kukenal lama semenjak aku masih berada di bangku sekolah menengah atas. Waktu itu aku sedang menjabat sebagai anggota jurnalistik redaksi sekolahku. Tepatnya di sebuah Madrasah di kota santri Situbondo. Aku sedang bersekolah di MAN 2 Situbondo, dari sana aku mulai mengenal apa itu dunia literasi. Pertama kali lewat secarik kertas dan sebatang pena yang sering menemani waktu senggangku menulis di pojok kelas.

Waktu istirahat tiba aku selalu saja mengeluarkan sebuah buku yang berisi lembar-lembaran kertas dan tak lupa sebatang pena di atas bangkuku. Ini saatnya aku harus menuangkan segala ideku dalam bentuk tulisan. Jurnalistik sekolah telah banyak mengenalkanku tentang berbagai genre tulisan. Entah itu cerita pendek, pantun dan puisi, atau pun berbagai jenis artikel dan sebuah opini sekaligus.

Lalu setelah kutuangkan segala ide yang begitu memenuhi dasar otakku ke atas kertas, aku mengumpulkannya di tempat yang biasa kugunakan untuk berdiskusi tentang jurnalistik. Yaitu sebuah mushollah sekolah. Memang jaman itu sekolahku menggunakan tempat mushollah untuk ruang diskusi sesama jurnalistik Exmandasi. Kata itu berkepanjangan expresi man dua Situbondo. Lalu aku menempelkannya di sebuah mading yang terpampang di tembok lobby sekolah. Hasil tulisanku telah terpajang di sana. Pasti banyak sekali para siswa yang akan menikmati tulisan-tulisan anggota jurnalistik exmandasi. Pekikku.

Seiring waktu secarik kertas dan sebatang pena itu menuangkan segala cerita-ceritaku. Entah itu tulisan cerpen, cerbung, puisi mau pun artikel dan opini sekaligus. Dari dua benda itu aku banyak belajar. Aku semakin menumbuhkan semangatku tuk menulis dan kerap kali menyapa hasil literasiku. Aku bangga telah bisa menulis, aku bangga karena aku bisa menuangkan segala pikiranku di atas kertas. Pena selalu melekat di antara jariku. Lalu kufokuskan tuk menyapa rangkaian kata di sana.

Pernah kuberpikir, aku ingin menerbitkan tulisan-tulisanku ini ke sebuah penerbit mayor. Bahkan mencetak hasil tulisanku di atas kertas menjadi sebuah buku hasil karyaku nanti. Saat itu pun aku semakin mengobarkan semangatku tuk terus menulis di tengah-tengah waktu senggang. Entah di sekolah mau pun di luar sekolah sekaligus. Aku tuangkan berbagai kalimat yang kutahu di atas kertas. Meski pun aku merasa--ada yang mengganjal dari segi tulisanku. Yah, waktu itu aku sama sekali tak mengerti perihal pentingnya EBI dan EYD. Aku tak peduli, namun yang kufokuskan hanya menulis saja.

Aku pernah mendengar sebuah kalimat yang sengaja kuanggap pepatah. Menulislah apa yang tertuang di dalam pikiranmu. Masalah editing bisa dilakukan nanti. Nanti jika tulisanmu beres. Pepatah itu selalu terngiang di pikiranku. Bahkan aku tak peduli mau tulisanku tak berkesan di hati atau pun rusak dalam hal kata sekaligus. Aku terus menulis di atas kertas tanpa peduli apa pun. Hingga aku tahu tulisan yang kutuangkan benar selesai.

Aku ialah gadis penyuka buku. Beberapa tumpukan buku yang kubaca kusantap dengan deretan pandanganku. Aku semakin ingin mengambil ilmu kosa kata yang kurang kumengerti dan tak kuketahui di dalam lembaran buku. Dari sana aku mulai belajar mengembangkan kata-kata kiasan atau pun kosa kata bahasa Indonesia. Aku mulai tuangkan tulisanku kembali ke atas kertas setelah kubaca buku-buku itu. Kuaplikasikan semua kosa kata yang kuketahui di sana.

Namun, setelah kutahu sebuah alat elektronik yang bisa membuatku semakin cepat menulis. Sebuah laptop dari sang ayah baru saja mendekap padaku. Waktu itulah aku mulai jarang sekali bercengkerama bersama secarik kertas dan sebatang pena yang biasa menemaniku. Karena yang kupikirkan, jika ingin tulisanku bagus, maka aku harus salin tulisan di atas kertasku ke dalam laptop yang baru saja kudapat. Sejak itu aku hanya berkaca pada sebuah buku. Aku ingin tulisanku dicetak menjadi sebuah buku yang bisa dibaca oleh banyak orang.

Tulisan-tulisan di buku itu di peroleh dari sebuah ketikan di laptop. Maka aku harus memulai bercengkerama bersama sebuah laptop. Menggantikan kertas dan pena yang menemaniku selama ini dengan sebuah laptop. Semenjak itu pun aku merasa menjauhkan diriku dari secarik kertas dan sebatang pena. Hingga tahun itu berlalu, dan saat ini pun aku masih bercengkerama bersama tulisanku yang mendekam di dalam laptop milikku. Kadang aku sandingkan cappuccino dan hot chocolate hangat tuk menemani tulisanku.

Kadang kala hingga saat ini, aku merasakan rindu yang berkelebat menyelinap dalam hatiku. Yaitu merindukan sebuah tulisanku di atas kertas dan sebatang penaku. Mungkin nanti akan kumulai tulisanku kembali di atas kertas bersama penaku. Ini hanyalah secarik kisahku dengan sahabat dunia literasi yang menemaniku hingga kini. Hingga aku menganjakkan kakiku di dunia perkuliahan. Aku tak berhenti untuk menyapa tulisan kembali di dunia jurnalistik di kampusku. Sama seperti saat aku menyelinap di dunia jurnalistik sekolah madrasahku waktu itu.

Wassalamualaikum sahabat pena :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN ~ LANTUNAN AYAT UNTUK BUNDA

Perlahan pintu di balik gubuk yang saat ini ku tinggali terbuka. Di sebuah gubuk yang hanya terbuat dari tabing-tabing putih. Dengan senyuman yang mulai nampak dan sedikit helaan napas sejenak. Kedua kaki ini melangkah dengan cepat, menghampiri seorang wanita paruh baya dengan mukennah yang membungkus tubuhnya. Lipatan sajadah panjang tampak ia duduki dan lingkaran tasbih yang tetap terselip di sela-sela jemarinya. Dengan lambat dan dengan pejaman mata, wanita paruh baya tersebut mencoba khusyuk dengan ucapan tasbihnya. “Subhanaallah.. Subhanaallah..” Begitu seterusnya yang terdengar oleh kedua daun telingaku. Langkahku terhenti, sembari duduk disamping wanita dengan balutan mukennah putih. Perlahan aku letakkan segelas air putih dan satu piring kecil yang berisikan tiga jenis obat disana. “Bu, jangan lupa obatnya di minum ya? Assalamualaikum,” Ucapku, sembari beranjak dari tempat ibadahnya. ‘ Krakk ’ dengan cepat jemariku menutup pintu rapat-rapat. Dengan pembatas satu...

PUISI- Apa Yang Kau Maksud Dengan Hidup? (Diterbitkan oleh WA Publisher dalam Antologi Puisi Makna Kehidupan)

Apa yang kau maksud dengan hidup? Ketika kicauan burung menggema. Memekakkan kedua pendengaranmu di pagi buta. Hingga kau mulai terbangun. Lalu menyenangkan dunia berada di sisimu. Apa itu yang kau maksud dengan hidup? Hanya berteman sajak rayuan. Yang kau lantunkan ke muka bumi. Hingga kau tak tahu, Aturan sang khalik bersemayam di dirimu. Kau malah menghempaskannya, Apa yang kau maksud dengan hidup? Seujung kuku tiada arti, Untuk semua makhluk yang tercipta. Muka dunia hanya ada, Diantara tetesan air di ujung ibu jari. Apa itu yang kau maksud dengan hidup? Kemanakah larinya langkahanmu ketika semua sirna? Apa kau hanya berdiam diri? Meratapi kesibukan pada gemerlapan dunia? Lantas, apa yang kau maksud dengan hidup? Selembar makna yang menjalar dalam hati. Menerapkan segala aturan, Milik sang khalik untuk bertopang disini. Apa itu yang kau maksud dengan kehidupan bermakna? Lebih baik, kau pikirkan saja! Kehidupan yang lebih bermakna untukmu.   ...

Kata Sajak ~ TIRAI SENJA

Menggelayut, Seakan-akan membiaskan pancaran tirai di balik langit biru.  Seakan-akan mengesankan sinar jingga di sekitaran bola bumi. Menulis, Seolah-olah jemahan diantara jari-jari tangannya tak terhenti menyapa awan.  Bagaimana, ketika tarian senja menerpa barisan diantara deretan kata menciptakan sebuah tulisan yang indah. Kicauan, Berbagai kepakan dibalik dengungan suara yang merdu.  Memekakkan kedua daun telinga seakan-akan ingin berteriak riang penuh tawa.  Saat-saat mereka mulai bernyanyi indah menatap senja. Rasakan, Pejaman kedua manik-manik mata seolah-olah menyorotkan pandangannya dengan perasaan teduh.  Menciptakan kilatan yang menderet ketika satu ulasan senyuman mulai terlukis. Senja, Sorotan cahayanya yang tak selalu terbenam melewatkan jiwa.  Pandangan tirai itu menghanyutkan sebuah ketenangan sinar yang teduh dibalik jingga. From My WP ~ Https://www.wattpad.com/user-twisprakle/