Langsung ke konten utama

Kata Sajak ~ TIRAI KATA

Satu kata yang terbingkai,
Satu kata yang membungkus sebuah kalimat utuh tanpa celah,
Satu kata yang mengulur tirai indah berselimut angan,

Hei, kau yang didalam sebungkus kalimat dalam kata,
Saat tirai menyelimuti terpaan cahaya biru,
Saat dibalik semilir tiupan angin berusaha mengungkapkan sebuah kata yang tak terucap,

Terkadang hembusan itu mendebarkan satu kata,
Ketika alam mulai berteriak memberi tanda dicelah jiwa,
Seolah jemari yang kian tergerak tak bisa terhentak,

Kau tau,
Begitulah suara deruhan kalimat dalam rangkaian kata yang terdengar,
Menggelinjang menembus gendang telinga hingga dilubuk hati,
Seakan terpaan hujan enggan berucap,

Kau tau,
Memang dialah satu kata yang selalu membuat hati itu menunggu,
Seolah mengartikan sebuah penantian dalam ungkapan dijiwa,

Hanya dengan sebuah kata, yang bisa membebaskan segalanya,
Seolah sayap-sayap indah berterbangan mengelilingi terpaan langit,

Ketika sebungkus kata itu telah terungkap..

Kata,


From My WP ~ Https://www.wattpad.com/user-twisprakle/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen- DI AKHIR SENJA BIRU

Senandung biru bertebaran menggelayuti awan putih nan salju. Semilir angin begitu menghembuskan udara segar dibalik kicauan burung dipagi hari. Pancaran cahaya terlihat jelas saat bergelantung menembus arah jendela kaca, disebuah kamar seorang gadis remaja. Derap langkah perlahan gadis itu mendekat ke sudut kaca, sembari ia meraih sebuah kamera dilentikan jemari yang telah tergenggam. Nampak jelas beberapa potretan dibalik kamera, terpajang rapi ketika gadis itu tersenyum menatap foto-foto dirinya. ‘ Krakk.. ’ Suara pintu terbuka ketika seorang gadis setengah baya tiba memasuki kamar. “Kak Nadya, ada yang cari kakak..” Ucap gadis manis berkaca mata dihadapan Nadya, dia Seilla adik dari Nadya. “Siapa ?” Tanya Nadya seolah pasang kening kerut. Sesaat ia terhenti dengan kameranya. “Kak Romy,” Kata seilla dalam menyingkat perkataan itu, ia melangkah .. Sembari Nadya begitu terdiam sesaat mendengar nama itu kembali, ‘ Kenapa harus saat ini? Kenapa harus sekarang d...